PRINSIP BHINEKA TUNGGAL IKA
Prinsip Bhineka Tunggal Ika, yaitu
asas yang mengakui adanya kemajemukan bangsa dilihat dari segi agama,
keyakinan, suku bangsa, adat budaya, keadaan daerah, dan ras.
Beberapa
cara menyikapi kemajemukan diantaranya adalah :
· Kemajemukan dihormati dan dihargai
serta didudukkan dalam suatu prinsip yang dapat mengikat keanekaragaman
tersebut dalam kesatuan yang kokoh
· Kemajemukan bukan dikembangkan
dan didorong menjadi faktor pemecah bangsa, tetapi kekuatan yang dimiliki
oleh masing-masing komponen banga
· Kemajemukan diikat secara
sinergi menjadi kekuatan yang luar biasa untuk dimanfaatkan dalam menghadapi
segala tantangan dan persoalan bangsa
|
Prinsip-prinsip nasionalisme Indonesia
tersusun dalam kesatuan majemuk tunggal yaitu:
a) Kesatuan Sejarah, yaitu bangsa
yang tumbuh dan berkembang dalam suatu proses sejarah.
b) Kesatuan Nasib, yaitu berada
dalam satu proses sejarah yang sama dan mengalami nasib yang sama yaitu dalam penderitaan
penjajahan dan kebahagiaan nasional.
c) Kesatuan Kebudayaan, yaitu keanekaragaman kebudayaan tumbuh menjadi suatu bentuk kebudayaan nasional.
d)
Kesatuan Asas Kerohanian, yaitu
adanya ide, cita-cita, dan nilai kerohanian yang secara keseluruhan tersimpul
dalam Pancasila.
|
Akan
tetapi, seiring waktu yang sejalan dengan era globalisasi, terjadi kelunturan
semangat Bhineka Tunggkal Ika dalam jiwa pemuda Indonesia. Beberapa
penyebabnya, anatara lain:
1)
Diskriminasi
Rasa
diskriminasi dapat tumbuh karena adanya rasa kesenjangan sosial yang tinggi
dalam masyarakat. Contoh konkrit dari diskriminasi adalah ketidakmerataan
kesejahteraan sosial dan pembangunan. Terjadinya ketimpangan antar wilayah
membuat implikasi/perbedaan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat antar
wilayah sehingga masyarakat tidak bersatu. Sifat ini tentu harus dihilangkan
dengan semangat kebersamaan menuju kehidupan yang lebih baik.
2)
Konflik
Konflik
dilatar belakangi oleh perbedaan yang ada dalam setiap individu atau ras dalam
sebuah interaksi. Fakor penyebab konflik diantaranya: 1) Perbedaan individu (meliputi
perbedaan pendirian dan perasaan, perbedaan latar belakang atau kebudayaan, sehingga membentuk pribadi-pribadi
yang berbeda), 2) Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, 3) Perubahan-perubahan
nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat, 4) Isu-isu sara dan kebenaran
agama yang bergesekan dalam masyarakat.
3)
Egoisme
Egoisme
merupakan sebuah karakter untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang
menguntungkan diri saja. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan
serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya.
Egoisme merupakan salah satu penyebab konflik yang seharusnya dapat diselesaikan
dengan musyawarah mufakat, kepala dingin, dan tanpa merasa menang dan benar
sendiri.
4)
Etnosentrisme
Etnosentrisme
adalah sikap yang cenderung merendahkan orang-orang yang tidak termasuk
golongannnya. Etnosentrisme beranggaban bahwa budaya asing lebih rendah daripada
budayanya yang dimiliki. Kondisi kecintaan yang berlebihan inilah yang justru
merongrong eksistensi Bhineka Tunggal Ika. Fanatisme kedaerahan juga berdampak
pada keutuhan NKRI.
5)
Cultural Lag
Cultural lag
adalah bentuk kesenjangan budaya akibat masuknya unsur-unsur globalisasi yang
terjadi secara cepat, tidak merata, dan tidak serempak. Unsur-unsur teknologi
yang masuk secara cepat yang tidak diimbangi dengan unsur-unsur sosial budaya
yang lambat, mengakibatkan terjadi kesenjangan sosial.
6)
Identitas Bangsa Luntur
Seiring
masuknya budaya-budaya asing dan perkembangan IPTEK yang tidak terbendung, rasa
kebangsaan perlahan mulai memudar. Contoh kecilnya ialah anak muda sekarang
lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa daerah, lebih banyak
menggunakan produk-produk asing daripada produk daerah, budaya musyawarah dan
gotong royong semakin jarang, sikap tidak peduli pada lingkungan sekitar, malu
mempelajari budaya asli daerahnya, dan lain-lain

Post a Comment